Selasa, 17 Mei 2016

Tuhan Satu

BAB IPENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang

Kata “Tuhan” Pada umumnya dipakai untuk merujuk kepada suatu zat abadi dan supernatural. Bagi rumpun agama sawawi kata tuhan sendiri biasanya mengacu pada Allah yang diyakini sebagai zat yang maha Sempurna, Pemilik langit dan bumi yang disembah manusia. Dalam bahasa arab kata ini sepadan dengan kata robb. Menurut ibnu aisir, tuhan dan tuan secara bahasa diartikan pemilik, penguasa, pengatur,Pembina, pengurus dan pemberi nikmat. Kata tuhan disebutkan lebih dari 1000 kali dalam Al-Qur’an sementara didalam al-kitab kata tuhan disebutkan sebanyak 7677 kali. Dalam monotoisme, biasanya dikatakan bahwa tuhan mengawasi dan memerintah manusia dan alam semesta atau jagat raya. Hal ini bisa juga digunakan untuk merujuk kepada beberapa konsep-konsep yang mirip dengan ini, mesalnya sebuah bentuk energy atau kesadaran yang merasukiseluruh alam semesta, yang keberadaannya membuat alam semesta ada. Tidak ada kesepakatan bersama mengenai konsep ketuhanan meliputi tersme, deisme, panteisme dan lain-lain.
sedangkan tuhan dalam islam tidak hanya maha agung dan maha kuasa namun juga tuhan yang personal : menurut Al-Qur’an, dia lebih dekat pada manusia dia menjawab bagi yang membutuhkan dan memohon pertolongan jiga mereka berdo’a padanya. Dan islam menitikl beratkan konsep tualisasi tuhan sebagai yang tunggal yang maha kuasa (tauhid) dia itu wahid dan esa (Ahad).
        Allah SWT berfirman Qur’an Surat Al-Ikhlas.




1.2   Maksud dan Tujuan

Adapun maksud kami member judul makalah ini dengan judul tuhan yang maha esa agar semua makhaluk meyakini akan adanya Allah yang maha Esa, dengan tujuan agar tidak menimbulkan konsep tentang katuhanan dan pertentangan yang mengarah pada munculnya pemikiran-pemikiran seperti Omniteisme, Pandeisme atau filsafat parenia yang menganggap adanya suatu kebenaran teologis yang mendasari segalanya yang daimati oleh berbagai agama dalam sudut pandang yang berbead-beda. Maka sesungguhnya agama-agama didunia menyembah satu tuhan yang sama namun melalui konsep dan pencitraan mental yang berbeda-beda mengenai tuhan.


1.3   Rumusan Masalah

1.       Apa itu Tuhan ?
2.       Apa tuhan itu banyak atau satu?
3.       Apa maksud Konsep Ketuhanan?
4.       Mengapa Allah, Tuhan yang satu?





BAB IITUHAN YANG SATU


2.1   Pengertian Tuhan

1. Bank imadudin memberikan oengertian kata tuhan, bahwa tuhan bercuti segala sesuatu yang paling kita cinta atau utamakan. Didunia ini tidak seorangpun yang tidak bertuhan walaupun ada diantara kita yang menyebut dirinya Atheis. Didalam Al-Qur’an tidak dijumpai kata Atheis atau tidak bertuhan hanya kata Kafir. Atheis tidak sama artinya kafir. Hal ini disebabkan karena sesungguhnya manusia tidak ada yang tidak bertuhan, semuanya bertuhan. Hanya saja tuhannya berbeda-beda. Mungkin saja tuhannya bukan Allah tetapi  mungkin ideology, ataukah politik, ekonomi budaya. Mungkin juga tuhannjya dalah leluhurnya ataukah Hobby misalnya olahraga, music, nonton bola. Facebook ataukah kecanduan Merokok, Narkoba. Jadi atheis itu tidak ada, mereka sebenarnya bertuhan tetapi tuhannya bukan Allah. Iblis saja mengakui tuhan, bahkan kepercayaannya kepada tuhan melebihi kepercayaan “manusia biasa” karena iblis bisa berdialog, tetapi iblis tidak taat atau membangkang. Disekitar kita banyakyang tidak sadar mempertuhankan harta, jabatan atau karir, anak isteri. Kalau seorang muslim yang konsekuen dengan ikrar yang selalu di ucapkan setiap saat berupa “sahadatain” maka tuhannya atau lainnya tiada lain kecuali Allah, hanya Allah yang paling di cintai, yang lainnya nomor dua. Kalau sedang asyik nonton bola tiba waktu Shalat maka yang di utamakan Shalat. Sekarang kita bisa ntropeksi diri  masing-masing. Apakah tuhan kita sebenarnya adalah Allah Azzawajalla atau masih ada yang lain seperti harta, jabatan, hobby, anak isteri, kesenangan dunia, politik dan sebagainya. Naudzubillaahi mindzalik.

2.  Sedangkan menurut Prof Dr Quraisy Shyhab dalam suatu kesempatan Tanya jawab dengan penulis, mengakatakan bahwa  perkataan “nahnu” atau “kami” dipakai bila tuhan tidak terlibat langsung sendirian dalam suatau objek tetapi melibatkan Makhluknya, seperti ayat yang menyatakan bahwa “kamukah yang menurunkan hujan Tuhan tudak langsung dengan tangannya sendiri, tetapi melalui makhluk yang disebut Matahari, awan, angin” demikian pula Firmannya yang mengatakan bahwa “ kami telah menciptakan kamu, tetapi kenapa kamu tidak membenarkannya (waqiah 57). Penciptaan tidak langsung tetapi melalui proses yang melibatkan ibu, bapak, manusia dan malaikat. “kami tealh menentukan kemataian diantara kamu dan kami sekali-kali tidak dapat dikalhkan” (waqiah 60). Kematian manusia melibatkan makhluk tuhan lainnya “malaikat”, penyakit dan sebagainya. Ayat-ayat ini menandakan bahwa dalam objek tersebut tuahn tidak sendirian melakukannnya tetapi melibatkan makhluknya berbeda dengan firman Allah yang menyatakan “fa’buduni” atau sembahlah Aku” (Thoha 14). Anaa rabbuka “atau” akulah tuhanmu (Thoha 12) pengertian firan ini adlah menginginkan tidak boleh melibatkan siapa-siapa dalam hal penyembahan kecuali hanya dirinya sendiri, tidak ada yang boleh disembah selain dia, tidak boleh melibatkan Makhluk lainnya.

2.2   Definisi Konsep Ketuhanan

       Tidak ada kesepakatan bersama menganai konsep ketuhanan, sehingga ada berbagai konsep ketuhanan meliputi teisme, deisme, panteisme, dll. Dalam pandangan teisme, tuhan merupakan pencipta sekaligus pengatur sehala kejadian di alam semesta. Menurut deisme tuhan merupakan pencipta alam semesta, namun tidak ikut campur dalam kejadian di alam semesta. Menurut Panteisme tuhan merupakan alam semesta itu sendiri, para Cendikiawan menganggap bebagai Sifat-sifat tuhan berasal dari konsep ketuhanan yang berbeda-beda. Yang paling umum, diantaranya adalah maha tahu (mengetahui segalanya), maha kuasa (memiliki kekuasaab tak terbatas), maha ada (hadir dimanapun), maha mulia (mengandungsegala sifat-sifat baik yang sempurna), tidak ada yang setara dengannya, serta besifat kekal abadi ada satu, serta tidak terwujud (tanpa materi), memiliki pribadi sumber segala kewajiban moral, dan hal terbesar yang dapat di renungkan.

       Ada banyak nama untuk menyebut tuhan, dan nama yang berbeda-beda melekat pada gagasan kultular tentang sosok tuhan dan sifat-sifat apa yang dimilikinya. Atenisme pada zaman mesir kuno kemungkinan besar merupakan agama monoteistis tertua yang pernah tercatat dalam sejarah yang mengajarkan tuhan sejati dan pencipta alam semesta yang disebut Aten kalimat “Aku adalah Aki” dalam Alkitab Ibrani dan “Tetragrammaton” YHVH digunakan sebagai nama Tuhan. Sedangkan Yahweh dan yehwa kadang kala digunakan dalam Agama Kristen. Dalam Bahasa Arab nama Allah digunakan dank arena diantara para penutur bahasa arab, maka nama Allah memiliki konotasi dengan kepercayaan dan kebudayaan islam. Umat Muslim mengenal 99 nama suci Allah, sedangkan Umat Yahudi biasanya menyebut Tuhan dengan gelar Elohim atau Adonai nama Yang ke-2 dipercaya oleh sejumlah palar berasal dari bahasa mesir kuno, Aten) dalam Agama Hindu Braham biasanya dianggap sebagai tuhan Monihis. Agama-agama lainnya memiliki panggilan untuk tuhan di antaranya “ Baha dalam Agama Baha’I, waheguru dalam sikhisme dan Ahura Mazda dalam Zoroastrianisme.
       Banyaknya konsep tentang tuhan dan pertentangan satu sama lain dalam sifat, maksud dan tindakan Tuhan. Telah mengarah kepada munculnya pemikiran-pemikiran seperti omniteisme, Pandeisme atau filsafat Parennial yang menganggap adanya satu kebenaran teologis yang mendasari segalanya, yang diamati oleh berbagai agama dalam sudut pandang yang berbeda maka sesungguhnya Agama-agama didunia menyembah Satu tuhan yang sama, namun melalui konsep dan pencitraan Mental yang berbeda-beda mengenai ketuhanan.

2.3   Allah Tuhan yang Esa

       Keesaan Allah atau Tauhid berasal dari bahasa Tauhid bentuk masdar (infinitif) dari kata wahada yang artinya al’itiqad biwahdaniyatillah (keyakinan atas keesaan Allah) Esa bebrarti satu. Allah tidak boleh dihitung dengan satu, dua atau seterusnya karena kepadanya tidak layak dikaitkan dengan bilangan. Seperti yang jelaskan dalam Al-Qur’an (Qs. Al-Ikhlas : 1-4) Dari ayat ini dijealaskan bahawa Allah itu maha Esa. Keesaan Allah swt itu menurut M.Quraish Shihab didalam buku aqidah akhlak keesaan Alah mencakup keesaan Zat, sifat, perbuatan, Serta Keesaan dalam beribadah kepadanya.
       Tauhid merupakan Pokok bahasan muslim, menyamakan Tuhan dengan Ciptaan adalah satu-satunya dosa yang tidak dapat diampuni seperti yang dijelaskan dalam Al-Qur’an dan umat muslim percaya bahwa keseluruhan ajaran islam besandar pada prinsip tauhid yaitu percaya “Allah itu Esa” dan tidak ada sekutu baginya. Bahkan tauhid merupakan konsep teoritis yang harus dilaksanakan karena merupakan syarat mutlak setiap muslim.



  

BAB IVPENUTUP


A.        KESIMPULAN

       Pengakuan akan tuhan telah ada dalam diri manusia sejak manusia pertamakali diciptakan, ketika masih dalam bentuk roh dan sebelum dilahirkan ke bumi. Allah menguji keimanan manusia terhadapanya dan saat itu manusia mengiyakan Allah dan menjadi saksi. Sehingga pengakuan tersebut menjadikan bawaan alamiah seperti ketika manusia dalam kesulitan, otomatis akan ingat keberadaan Tuhan.

B.        SARAN

       Kita Selaku umat muslim meyakini keesaan Allah sangat penting ditanamkan dalam hati setiap orang yang mengimani adanya Allah SWT. Eloh karena itu untuk mendukung ketercapaian keimanan tersebut harus didukung dengan pemahaman mengenai ilmu tauhid dan cabang-cabang dari ilmu tauhid agar tidak menimbulkan Konsep ketuhanan.




DAFTAR PUSTAKA

“God” The Ox ford Companion to philosophy
Aqunas Thomas (1990) Ignatius Prees
Akidah Akhlak (MA. X) KEMENAG

Tidak ada komentar:

Posting Komentar